BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Manusia
merupakan makhluk yang unik. Dari setiap sisi dari tubuh manusia menjadi sebuah
hal yang menarik untuk dipelajari. Kita juga mengenal berbagai sistem organ
yang mempunyai peran yang sangat penting sesuai dengan peran fungsinya. Sistem
organ dengan sistem kerja masing – masing saling berinteraksi dan menjadikan
satu kesatuan yang utuh.
Dari
berbagai sistem, kita mengenal sistem perkemihan dimana dari organ-nya dan
fungsinya. Adapun hal yang menarik bahwa zat yang dikeluarkan atau yang dikenal
dengan nama urine dapat menjadi sebuah penelitian akan kondisi kesehatan tubuh
seseorang. Disini telah disusun berbagai hal menarik mengenai urin.
1.2
TUJUAN
Tujuan
dari uji urin ini adalah:
- Mengetahui berat jenis, suhu, dan rentang waktu
- Mengetahui apa saja yang mengakibatkan cepat dan lambatnya perkemihan
- Mengetahui tentang urin
1.3
RUMUSAN MASALAH
-
Bagaimana proses perkemihan
- Bagaimana minuman itu
di proses
1.4
METODE PENELITIAN
Metode
penelitian oleh penulis dipilih dengan mempertimbangkan kesesuaian obyek, dan
subyek yang diteliti serta studi ilmu penulis, sehingga penulis dapat
mengetahui informasi mengenai uji urin.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
PENGERTIAN URIN
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui
proses urinasi.
Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang
menggunakan urin sebagai sarana komunikasi
olfaktori.
Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih,
akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.
Urin
terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi
pembentuk urin berasal dari darah atau cairan
interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang
proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa,
diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa
mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau
berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di
dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin
dapat menjadi sumber nitrogen
yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes
adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita
diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat.
Fungsi
utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari
dalam tubuh.Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang “kotor”. Hal ini
berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran
kencing yang terinfeksi, sehingga urinnya pun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin
sebenarnya cukup steril dan hampir bau yang dihasilkan berasal dari urea. Sehingga bisa diakatakan bahwa urin itu merupakan zat yang
steril. Urin dapat menjadi penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak menderita
dehidrasi akan mengeluarkan urin yang bening seperti air. Penderita dehidrasi
akan mengeluarkan urin berwarna kuning pekat atau cokelat.
Pandangan
Awal Mengenai Warna:
1.
Kuning jernih
Urin
berwarna kuning jernih merupakan pertanda bahwa tubuh Anda sehat. Urin ini
tidak berbau. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri
akan mengontaminasi urin dan mengubah zat dalam urin sehingga menghasilkan bau
yang khas.
2.
Kuning tua atau pekat
Warna
ini disebabkan karena tubuh mengalami kekurangan cairan. Namun bila terjadi
terus, segera periksakan diri Anda ke dokter karena merupakan tahap awal
penyakit liver.
3. Kemerahan
Urin merah. Kondisi ini bisa menandakan gangguan batu ginjal dan kandung kemih. Namun bisa juga karena mengonsumsi obat pencahar maupun rifampisin secara berlebihan.
Urin merah. Kondisi ini bisa menandakan gangguan batu ginjal dan kandung kemih. Namun bisa juga karena mengonsumsi obat pencahar maupun rifampisin secara berlebihan.
4. Orange
Mengindikasikan penyakit hepatitis atau malaria. Pyridium, antibiotik yang biasa digunakan untuk infeksi kandung kemih dan saluran kencing juga dapat mengubah warna urin menjadi oranye.
Mengindikasikan penyakit hepatitis atau malaria. Pyridium, antibiotik yang biasa digunakan untuk infeksi kandung kemih dan saluran kencing juga dapat mengubah warna urin menjadi oranye.
Selain
warna, bau urin juga bisa digunakan untuk mendeteksi penyakit. Misalnya pada
penderita diabetes dan busung lapar, urin cenderung berbau manis, sementara
jika seseorang mengalami infeksi bakteri E. coli, urinnya cenderung berbau
menyengat.
Banyak
sekali faktor yang mempengaruhi volume urin seperti umur, berat badan, jenis
kelamin, makanan dan minuman, suhu badan, iklim dan aktivitas orang yang
bersangkutan. Rata-rata didaerah tropik volume urin dalam 24 jam antara
800–1300 ml untuk orang dewasa. Bila didapatkan volume urin selama 24 jam lebih
dari 2000 ml maka keadaan itu disebut poliuri.
Bila
volume urin selama 24 jam 300–750 ml maka keadaan ini dikatakan oliguri,
keadaan ini mungkin didapat pada diarrhea, muntah -muntah, deman edema,
nefritis menahun.
Anuri
adalah suatu keadaan dimana jumlah urin selama 24 jam kurang dari 300 ml. Hal
ini mungkin dijumpai pada shock dan kegagalan ginjal.
Urin
adalah suatu cairan esensial dari hasil metabolisme nitrogen dan
sulfur,garam-garam anorganik dan pigmen-pigmen. Biasanya berwarna
kekuning-kuningan, meskipun secara normal banyak variasinya. Mempunyai bau yang
khas untuk speciesyang berbeda. Jumlah urin yang diekskresikan tiap harinya
bervariasi, tergantung pada pakan, konsumsi air, temperatur lingkungan, musim
dan faktor-faktor lainnya (Ganong, 2003).
Proses
pembentukan urine dalam ginjal meliputi proses penyaringan (filtrasi),
penyerapan kembali (reabsorbsi), dan penambahan zat – zat (augmentasi). Proses
filtrasi terjadi di glomerulus dan kapsula bowman. Proses reabsorbsi terjadi di
tubulus proksimal, dan augmentasi terjadi di tubulus distal. Ginjal kira-kira
mengandung 1,3 x 106 nefron yang beroprasi secara paralel. Tiap nefron terdiri
dari suatu glomerulus yang dibekali dengan darah dalam sistem kapiler arteri
sedemikian sehingga terjadi tekanan filtrasi yang memadai untuk mempengaruhi
ultrafiltrasi material berberat molekul rendah dalam plasma. (Roberts, 1993).
Urin
sering dianggap hasil buangan yang sudah tidak berguna. Padahal urin sangat
membantu dalam pemeriksaan medis. Urin merupakan salah satu cairan fisiologis
yang sering dijadikan bahan untuk pemeriksaan (pemeriksaan visual, pemeriksaan
mikroskopis, dan menggunakan kertas kimia) dan menjadi salah satu parameter
kesehatan dari pasien yang diperiksa. Selain darah, urin juga menjadi komponen
yang penting dalam diagnosis keadaan kesehatan seseorang.
Ada
3 macam pemeriksaan, antara lain
(1)
pemeriksaan visual. Urin mengindikasikan kesehatan yang baik bila terlihat
bersih. Bila tidak, maka ada masalah dalam tubuh. Kesehatan bermasalah biasanya
ditunjukkan oleh kekeruhan, aroma tidak biasa, dan warna abnormal.
(2)
Tes yang menggunakan kertas kimia yang akan berganti warna bila substansi
tertentu terdeteksi atau ada di atas normal.
(3)
Hasil yang datang dari pemeriksaan mikroskopis yang dilakukan untuk mengetahui
apakah kandungan berikut ini berada di atas normal atau tidak (Ganong 2002).
Karakteristik
urin normal memiliki warna urin pagi (yang diambil sesaat setelah bangun pagi)
sedikit lebih gelap dibanding urin di waktu lainnya. Warna urin normal kuning
pucat sampai kuning. Nilai normal 1.003-1.03 g/mL Nilai ini dipengaruhi sejumlah
variasi, misalnya umur. Berat jenis urin dewasa berkisar pada 1.016-1.022,
neonatus (bayi baru lahir) berkisar pada 1.012, dan bayi 1.002-1.006. Urin pagi
memiliki berat jenis lebih tinggi daripada urin di waktu lain, yaitu sekitar
1.026. Urin berbau harum atau tidak berbau, tetapi juga tergantung dari
bahan-bahan yang diekskresi. Normal urin berbau aromatik yang memusingkan. Bau
merupakan indikasi adanya masalah seperti infeksi atau mencerna obat-obatan
tertentu. urin yang normal rata-rata 1-2 liter / hari. Kekurangan minum
menyebabkan kepekatan urin meningkat (konsentrasi semua substansi dalam urin
meningkat) sehingga mempermudah pembentukan batu. pH urin dapat berkisar dari
4,5 – 8,0. pH bervariasi sepanjang hari, dipengaruhi oleh konsumsi makanan,
bersifat basa setelah makan, lalu menurun dan menjadi kurang basa menjelang
makan berikutnya. Urine pagi hari (bangun tidur) bersifat lebih asam.
Ciri-Ciri
Urin Normal :
1.
Rata-rata dalam satu hari 1-2 liter, tapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah cairan
yang masuk.
2.
Warnanya bening oranye tanpa ada endapan.
3.
Baunya tajam.
4.
Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6.
5.
Kadar gula dibawah 1%.
6.
Tidak mengandung protein dan sel darah merah.
2.2
PENGERTIAN GINJAL SEBAGAI ORGAN EKSRESI
Ginjal
adalah organ
ekskresi
dalam vertebrata
yang berbentuk mirip kacang. Sebagai bagian dari sistem urin,
ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea)
dari darah dan membuangnya bersama dengan air
dalam bentuk urin. Cabang dari kedokteran yang mempelajari ginjal dan
penyakitnya disebut nefrologi.
Bagian
paling luar dari ginjal disebut korteks, bagian lebih dalam lagi disebut medulla. Bagian paling dalam disebut pelvis. Pada bagian medulla ginjal manusia dapat pula dilihat adanya piramida yang
merupakan bukaan saluran pengumpul. Ginjal dibungkus oleh lapisan jaringan
ikat longgar yang disebut kapsula. Unit fungsional dasar dari ginjal adalah nefron yang dapat berjumlah lebih dari satu juta buah dalam satu
ginjal normal manusia dewasa. Nefron berfungsi sebagai regulator air dan zat
terlarut (terutama elektrolit)
dalam tubuh dengan cara menyaring darah, kemudian mereabsorpsi cairan dan
molekul yang masih diperlukan tubuh. Molekul dan sisa cairan lainnya akan
dibuang. Reabsorpsi dan pembuangan dilakukan menggunakan mekanisme pertukaran
lawan arus dan kotranspor. Hasil akhir yang
kemudian diekskresikan disebut urine. Sebuah nefron terdiri dari sebuah komponen penyaring yang
disebut korpuskula (atau badan Malphigi) yang dilanjutkan oleh saluran-saluran (tubulus). Setiap
korpuskula mengandung gulungan kapiler darah yang disebut glomerulus yang berada dalam kapsula Bowman.
Setiap glomerulus mendapat aliran darah dari arteri aferen. Dinding kapiler
dari glomerulus memiliki pori-pori untuk filtrasi atau penyaringan. Darah dapat
disaring melalui dinding epitelium tipis yang berpori dari glomerulus dan
kapsula Bowman karena adanya tekanan dari darah yang mendorong plasma darah.
Filtrat yang dihasilkan akan masuk ke dalan tubulus ginjal. Darah yang telah
tersaring akan meninggalkan ginjal lewat arteri eferen. Di antara darah dalam
glomerulus dan ruangan berisi cairan dalam kapsula Bowman terdapat tiga
lapisan:
2.
lapisan kaya protein sebagai membran dasar
3.
selapis sel epitel melapisi dinding kapsula Bowman (podosit)
Dengan
bantuan tekanan, cairan dalan darah didorong keluar dari glomerulus, melewati
ketiga lapisan tersebut dan masuk ke dalam ruangan dalam kapsula Bowman dalam
bentuk filtrat glomerular. Filtrat plasma darah tidak mengandung sel darah
ataupun molekul protein yang besar. Protein dalam bentuk molekul kecil dapat
ditemukan dalam filtrat ini. Darah manusia melewati ginjal sebanyak 350 kali
setiap hari dengan laju 1,2 liter per menit, menghasilkan 125 cc filtrat
glomerular per menitnya. Laju penyaringan glomerular ini digunakan untuk tes
diagnosa fungsi ginjal.
Tubulus
ginjal merupakan lanjutan dari kapsula Bowman. Bagian yang mengalirkan filtrat
glomerular dari kapsula Bowman disebut tubulus konvulasi proksimal. Bagian selanjutnya adalah lengkung Henle yang bermuara pada tubulus konvulasi distal. Lengkung Henle diberi nama berdasar penemunya yaitu Friedrich Gustav Jakob Henle pada awal tahun 1860-an. Lengkung Henle menjaga gradien osmotik dalam pertukaran lawan arus yang digunakan untuk filtrasi.
Sel yang melapisi tubulus memiliki banyak mitokondria
yang menghasilkan ATP dan memungkinkan terjadinya transpor aktif untuk menyerap kembali glukosa, asam amino, dan berbagai
ion mineral. Sebagian besar air (97.7%) dalam filtrat masuk ke dalam tubulus
konvulasi dan tubulus kolektivus melalui osmosis. Cairan mengalir dari tubulus
konvulasi distal ke dalam sistem pengumpul yang terdiri dari:
- tubulus penghubung
- tubulus kolektivus kortikal
- tubulus kloektivus medularis
Tempat
lengkung Henle bersinggungan dengan arteri aferen disebut aparatus juxtaglomerular, mengandung macula densa dan sel
juxtaglomerular. Sel
juxtaglomerular adalah tempat terjadinya sintesis dan sekresi renin
Cairan
menjadi makin kental di sepanjang tubulus dan saluran untuk membentuk urin, yang kemudian dibawa ke kandung kemih melewati ureter.
Fungsi homeostasis ginjal
Ginjal
mengatur pH, konsentrasi ion mineral, dan komposisi air dalam darah.
Ginjal
mempertahankan pH plasma darah pada kisaran 7,4 melalui pertukaran ion
hidronium dan hidroksil. Akibatnya, urine yang dihasilkan dapat bersifat asam
pada pH 5 atau alkalis pada pH 8.
Kadar
ion natrium dikendalikan melalui sebuah proses homeostasis yang melibatkan aldosteron untuk meningkatkan penyerapan ion natrium pada tubulus
konvulasi.
Kenaikan
atau penurunan tekanan osmotik darah karena kelebihan atau kekurangan air akan
segera dideteksi oleh hipotalamus
yang akan memberi sinyal pada kelenjar pituitari dengan umpan balik negatif. Kelenjar pituitari mensekresi hormon
antidiuretik (vasopresin, untuk menekan sekresi
air) sehingga terjadi perubahan tingkat absorpsi air pada tubulus ginjal.
Akibatnya konsentrasi cairan jaringan akan kembali menjadi 98%.
Fungsi
ginjal selain sebagai alat ekskresi yaitu :
A.
Menyaring/membersihkan darah
Bagian
ginjal yg menjalankan fungsi ini adalah nefron. Tanpa ginjal, maka seseorang
akan mati sebab tubuhnya diracuni oleh kotoran yang dihasilkan tubuhnya
sendiri.
B.
Mengatur volume darah
Darah
dapat mengatur jumlah cairan yang terlarut dalam darah sehingga volume
dipertahankan untuk selalu seimbang di dalam tubuh.
C.
Mendaur ulang air, mineral, glukosa dan gizi
Ginjal
akan mempertahankan zat-zat penting yang ikut masuk kedalam nefron bersama
cairan darah, lalu mengembalikannya ke peredaran darah. Tapi ginjal tidak
menyerap kembali zat-zat ini jika jumlahnya berlebih dalam darah.
D.
Mengatur keseimbangan kandungan kimia darah
Mengatur
kadar garam dalam darah, garam cenderung mengikat air sehingga jika kadar dalam
gula darah berlebih mengakibatkan penumpukan cairan yang berlebihan dalam darah
dan rongga sela antarsel tubuh. Ginjal juga mengatur kadar kalium dalam darah.
E.
Menjaga darah agar tidak terlalu asam
Ginjal
berperan dalam menjaga pH darah agar tidak terlalu asam.
F.
Penghasil hormon
Hormon
yang dihasilkan adalah hormon eritroprotein yang berfungsi untuk merangsang
peningkatan laju pembentukan sel darah merah oleh sum sum tulang.
Proses
pembentukan urin dalam ginjal dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu filtrasi
(penyaringan), reabsorpsi (penyerapan kembali), dan augmentasi (pengeluaran
zat).
1.
Filtrasi (penyaringan)
Filtrasi
terjadi di kapsul bowman dan glomerulus. Selain penyaringan, di glomerulus juga
terjadi, penyerapan sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein
plasma.
Proses
filtrasi yaitu ketika darah masuk ke glomerulus tekanan darah menjadi
tinggi sehingga mendorong air dan komponen-komponen yang tidak dapat larut
melewati pori-pori endotelium kapiler, glomerulus, kemudian menuju membran
dasar dan melewati lempeng filtrasi lalu masuk ke dalam ruang kapsul bowman.
Hasil filtrasi dari glomerulus dan kapsul bowman disebut filtrat glomerulus
atau urine primer. Urine primer mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium
dan garam-garam lainnya.
2.
Reabsorpsi (penyerapan kembali)
Bahan-bahan
yang masih diperlukan di dalam urin primer akan diserap kembali di tubulus
kontortus proksimal, lengkung henle dan sebagian tubulus kontortus distal.
Reabsorpsi dilakukan oleh sel-sel epitelium di seluruh tubulus ginjal.
Banyaknya zat yang direabsorpsi antara lain adalah glukosa, asam amino, ion-ion
dan sebagian urea. Zat-zat yang diserap kembali akan dikembalikan ke dalam
darah melewati kapiler darah di sekitar tubulus, juga terjadi penyerapan
natrium di lengkung henle, sisanya akan membentuk urine sekunder. Didalam urine
sekunder tidak terdapat zat yg berguna. Disini ditemukan kadar urea yang
tinggi.
3.
Augmentasi
Augmentasi
adalah proses penambahan zat sisa dan urea. Urin sekunder dari tubulus
kontortus distal akan turun menuju tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul
ini masih terjadi penyerapan ion Na+ Cl- dan urea sehingga
terbentuklah urin sesungguhnya. Dari tubulus pengumpul urin dibawa ke pelvis
renalis. Dari pelvis renalis, urine mengalir melalui ureter menuju vesika
urinaria (kantong kemih) yang merupakan tempat penyimpanan sementara urine.
Hubungan
antara kulit dan ginjal dalam mengeluarkan air dari dalam tubuh yaitu pada saat
cuaca panas, pembuluh darah di sekitar kulit akan mengembang yang menyebabkan
pori-pori kulit ikut mengembang. Hal ini akan menyebabkan keringat keluar
melalui pori-pori. Dengan begitu ginjal yang tugasnya mengeluarkan urin,
digantikan oleh kulit yang mengeluarkan keringat (tentu saja komposisi keringat
dan urin berbeda). Sebaliknya pada saat cuaca dingin, pembuluh darah akan
menyusut sehingga keringat yang seharusnya dikeluarkan oleh kulit, digantikan
oleh pengeluaran urin oleh ginjal. Hal ini menyebabkan kita selalu ingin buang
air kecil pada saat cuaca dingin
2.3
PENGERTIAN OSMOREGULASI
Osmoregulasi
adalah proses mengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta
pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme hidup. Proses osmoregulasi
diperlukan karena adanya perbedaan konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan
disekitarnya. Jika sebuah sel menerima terlalu banyak air maka ia akan meletus,
begitu pula sebaliknya, jika terlalu sedikit air, maka sel akan mengerut dan
mati. Osmoregulasi juga berfungsi ganda sebagai sarana untuk membuang zat-zat
yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme hidup.
Makna
osmoregulasi adalah proses mengatur dan menyeimbangkan konsentrasi asupan
cairan dan pengeluaran oleh sel atau cairan tubuh organisme hidup. Sementara
pemahaman tentang osmoregulasi ikan Tekanan osmotik cairan tubuh pengaturan
sesuai untuk kehidupan ikan, sehingga proses-proses fisiologis fungsi tubuh
normal (Homeostasis). ka sel menerima terlalu banyak air maka akan meletus, dan
sebaliknya, jika terlalu sedikit air, maka sel akan mengerut dan mati.
Osmoregulasi juga ganda sebagai sarana untuk membuang zat-zat yang tidak
diperlukan oleh sel atau organisme hidup.
Untuk
organisme akuatik, proses ini digunakan sebagai ukuran untuk menyeimbangkan
tekanan osmosa antara substansi dalam tubuh dengan lingkungan melalui sel
permeabel. Dengan demikian, semakin jauh perbedaan tekanan osmotik antara tubuh
dan lingkungan, semakin banyak energi metabolisme yang dibutuhkan untuk
osmoregulasi mmelakukan sebagai adaptasi, hingga batas toleransi yang mereka
miliki. Oleh karena itu, pengetahuan tentang osmoregulasi sangat penting dalam
mengelola media air pemeliharaan kualitas, terutama salinitas. Hal ini karena
dalam osmoregulasi, proses regulasi terjadi melalui konsentrasi ion dan air
dalam tubuh dengan kondisi di lingkungan.
Ion
dan air pada ikan terjadi regulasi hipertonik, hipotonik atau isotonik
tergantung pada perbedaan (lebih tinggi, lebih rendah atau sama) konsentrasi
cairan tubuh dengan konsentrasi media1, 2. Perbedaannya dapat digunakan sebagai
strategi dalam berurusan dengan komposisi cairan ekstraselular dalam tubuh
ikan2. Untuk ikan yang hiperosmotik potadrom dengan lingkungannya dalam proses
osmoregulasi, air bergerak ke dalam tubuh dan ion keluar ke lingkungan dengan
cara difusi. Keseimbangan cairan tubuh dapat terjadi dengan meminum sedikit air
atau tidak minum sama sekali. Kelebihan air dalam tubuh dapat dikurangi dengan
membuangnya dalam bentuk urin. Untuk ikan yang hipoosmotik oseanodrom terhadap
lingkungannya, air mengalir dari osmosa tubuh melalui ginjal, insang dan kulit
ke lingkungan, sedangkan ion ke tubuh dengan difusi1, 2. Adapun eurihalin ikan,
memiliki kemampuan untuk dengan cepat menyeimbangkan tekanan osmotik dalam
tubuh dengan media (isoosmotik), namun karana kondisi lingkungan perairan tidak
selalu tetap, maka proses serta ikan ormoregulasi potadrom dan oseanodrom masih
terjadi.
Salinitas
atau garam konten adalah jumlah bahan padat dalam satu kilogram air laut, dalam
hal ini semua karbonat telah diubah menjadi oksida, brom dan yodium yang telah
disinkronkan dengan klorin dan bahan organik yang telah teroksidasi. Langsung,
media akan mempengaruhi salinitas tekanan osmotik cairan tubuh ikan.
Pengetahuan tentang metabolisme dapat juga dikaitkan dengan beberapa disiplin
lain, seperti genetika, toksikologi dan lainnya ilmiah sehingga ikan yang
dihasilkan dapat memiliki kualitas lebih unggul daripada sebelumnya. Hal ini
karena ikan untuk berinvestasi untuk 25-50% dari output total dalam
mengendalikan metabolisme komposisi cairan intra-dan ekstraselularnya.
Perubahan
dalam tingkat salinitas mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan,
sehingga ikan untuk menyesuaikan pengaturan osmotik internal atau bekerja
sehingga proses fisiologis dalam tubuh dapat bekerja secara normal lagi. Jika
salinitas yang lebih tinggi, usaha ikan untuk menjaga ketertiban dalam kondisi
homeostasi nya tercapai, sampai batas toleransi yang mereka miliki. Osmotik
bekerja membutuhkan energi yang lebih tinggi juga. Hal ini juga mempengaruhi
waktu kepenuhan (waktu kekenyangan) ikan.
Rainbow
trout seringkali digunakan sebagai sistem model untuk mempelajari rute dan
mekanisme ekskresi dan osmoregulasi. Proses osmoregulasi juga menghasilkan
produk-produk limbah seperti kotoran dan amonia, sehingga pemeliharaan yang
akan menjadi media berwarna keruh akibat jumlah kotoran ikan dirilis. Dampak
ekskresi nitrogen juga akan mempengaruhi kehidupan ikan di dalamnya. Pada
embrio rainbow trout, ekskresi nitrogen dalam bentuk urea juga dapat dikaitkan
dengan kandungan nitrogen dalam kuning telur, karena permeabilitas rendah dari
membran sel telur dari amonia.
Dampak
dari produk limbah dari metabolisme pada kelangsungan hidup ikan berdasarkan
perubahan fisik dalam kualitas air, dapat diduga bahwa perubahan tersebut juga
mempengaruhi kondisi ambient ikan, yang pada gilirannya mempengaruhi pertahanan
tubuh. Setelah melewati batas toleransi, maka ikan yang sekarat. Mengingat
bahwa tidak semua ikan mati, maka dapat dipastikan bahwa kekuatan toleransi
pada populasi ikan di akuarium berbeda. Hal ini mungkin karena perbedaan
kondisi tubuh sebelum dimasukkan dalam intensitas praktek media, termasuk
parasit, tingkat stres dan lain-lain. Nitrat toksisitas di air tawar tergolong
sangat rendah (96 h LC50s> 1000 mg / L sebagai N). Hal ini dapat dikaitkan
dengan munculnya potensi masalah dalam proses osmoregulasi. Dalam sistem dengan
konsentrasi nitrat tinggi, reduksi nitrat terjadi pada anaerobik. Nitrat di
perairan laut konsentrasi kurang dari 500 mg / L untuk ikan laut sebagian
besar, tapi untuk ikan laut tropis seperti anemone (Amphiprion ocellaris) lebih
sensitif, yaitu hanya 20 mg / L.
Tingkat
stres juga bervariasi dialami oleh benih di akuarium, sebagai akibat dari
perbedaan perlakuan. Lebih mendalam studi, dapat ditelusuri dengan isi
kortisol. Banyak hal berkenaan dengan kortisol selama proses metabolisme,
seperti starvasi (puasa), osmoregulasi, penyebaran penghematan energi untuk
migrasi, proses gonad, pemijahan pematangan dan selama stres yang dialami oleh
ikan itu sendiri.
Osmoregulasi
mekanisme juga dapat dilacak pada tingkat sel. Sel-sel yang pertama dihasilkan
melalui mekanisme kultur sel. Penelitian tentang sel epitelioma papulosum
cyprinid (EPC), berasal dari sel epidermis ikan mas dapat digunakan untuk
menentukan kelangsungan hidup dan pertumbuhan sel-sel di hiper-media dan
hipoosmotik. Dengan menggunakan sel kultur, ekspresi gen dapat diamati juga
bahwa bias yang terkait dengan kemampuan adaptasi dan stres osmotik.
BAB
III
METODOLOGI
3.1
TEST URIN
Tujuan
:
Menetapkan
apakah ginjalnya bekerja dengan baik atau tidak dan kepekatan urinnya,
Bahan
– bahan :
- Urine hasil dari pengonsumsian air garam
- Urine hasil dari pengonsumsian air mineral
- Garam
- 2 aqua 1500 cc
- 2 aqua gelas 240cc
Peralatan
:
- Tabung reaksi
- Gelas ukur
- Sendok
- Thermometer
- Pengukur bj (Berat Jenis)
- Spet
- Dua ( 2 )orang
o Advan
o Oki
Langkah
kerja :
- Sebelum di mulai kedua orang tersebut harus buang air kecil dahulu
- Aqua 240cc di campur dengan garam sebanyak + 500 gram lalu di minum oleh advan
- Aqua 1500cc di minum oki tanpa di campur dengan garam
- Setelah selsesai minum selang waktu 15 menit harus buang air kecil
BAB
IV
PEMBAHASAN
4.1
HASIL PENGAMATAN
Dari hasil pengamatan diperoleh data
sebagai berikut:
A.
GARAM
NO
|
NAMA
|
VOLUME
|
SUHU
|
BJ (BERT JENIS)
|
15 MENIT
|
1
|
ADVAN
|
200CC
|
35
|
1024
|
ü
|
Selesai minum pukul 14:25
dan buang air kecil
(1) 14:40
(2)
B.
AIR MINERAL
NO
|
NAMA
|
VOLUME
|
SUHU
|
BJ (BERT JENIS)
|
15 MENIT
|
1
|
OKI
|
20CC
|
1022
|
ü
|
Selesai minum pukul 16:35
dan dan buang air kecil
(1). 17:40
(2)
Perbandingan antara
antara A dan B
A. 1/1
B. 1/7
Keterangan:
A: Air Garam
B: Air Mineral
5.1 Fisologi Dalam Berkemih:
Terjadi peregangan serat
Otot dinding VU
Timbul rangsangan ingin
buangair
kecil
Impuls
berjalan melalui
serabutaferen
menuju medulla
ke
korteksserebi
Miksi dikontrol saraf
aferenmenuju VU, impuls berjalanmenuju saraf
parasimpatis yangmenyebabkan:
•Otot dinding VU berkontraksi
•Sfingter VU berelaksasi
Pengeluaran
urine dibantu
olehkontraksi otot dinding
abdomendan
diafragma,
juga oleh peningkatan
tekanan
kandungkemih
1. Terlalu sering buang air kecil
Menurut para dokter, jika frekuensi buang air di atas 8 kali sehari berarti ada kemungkinan Anda mengidap overactive bladder atau hasrat ingin buang air kecil terus menerus. Hal ini biasanya disebabkan karena terlalu sering minum atau mengonsumsi beberapa makanan dan obat-obatan yang memicu overactive bladder.
2. Tidak bisa menahan buang air kecil
Tidak bisa menahan hasrat buang air kecil juga merupakan salah satu tanda Anda mengidap overactive bladder. Kebiasaan buang air kecil ini kebanyakan diidap oleh orang lanjut usia dan orang yang menderita dimensia.
3. Terasa terbakar saat buang air kecil
Sensasi terbakar saat buang air kecil merupakan salah satu gejala infeksi saluran kemih (ISK), baik pada wanita maupun pria. Kadang-kadang rasa terbakar ini juga disertai dengan rasa nyeri. Pada wanita, rasa nyeri itu terdapat di atas tulang kemaluan, sedangkan pria pada rektum. Apabila disertai demam dan kelelahan, bisa jadi Anda mengidap kondisi ISK parah.
4. Aliran air seni yang melemah
Setelah usia 40, beberapa pria seringkali mengalami kebiasaan buang air kecil yang tidak lancar. Aliran air seni pun melemah dan mudah sekali terganggu. Jika kebiasaan ini disertai dengan hasrat buang air kecil terus menerus, gejala ini bisa menandakan adanya masalah pada prostat.
5. Terbangun di malam hari untuk buang air kecil
Jika Anda terbangun di malam hari untuk buang air kecil, bisa jadi karena Anda terlalu banyak minum. Tetapi bila Anda terbangun lebih dari dua hari atau rutin terjadi, maka hal itu merupakan gejala overactive bladder.
6. Ngompol saat tertawa
Terlalu sering memaksa tubuh secara fisik bisa membuat Anda mengeluarkan air seni secara tidak sengaja. Namun jika Anda mengompol saat tertawa, ada kemungkinan Anda mengidap inkontinensia stres, keluarnya air seni saat ada tekanan tiba-tiba pada otot perut bawah, seperti ketika batuk, tertawa, mengangkat sesuatu atau berolahraga.
7. Buang air kecil saat bercinta
Biasanya hal ini dialami wanita saat akan merasakan orgasme. Hal ini seringkali buat wanita merasa tidak percaya diri dan memilih untuk menghindari hubungan intim. Keluarnya air seni saat bercinta disebabkan oleh gangguan saraf yang disebut urge incontinence.
7.1 Masalah-Masalah
dan Factor
Masalah-Masalah
dan Factor Yang Mempengaruhi Dalam Pola BerkemihAdapun masalh yang sering muncul dalam pola berkemih sebagai
berikut:
1.Inkontinensia
Urine
Yaitu kondisi
ketika dorongan berkemih tidak mampu dikontrol oleh sfingter eksternal.
2.Retensi urine
Yaitu kondisi
tertahannya urine di kandung kemih akibat terganggunya proses pengosongan kandung kemih
sehingga kandung kemih menjadi renggang
3.Enuresis
Adalah
peristiwa berkemih yang tidak disadari pada anak yang usianyamelampaui batas usia normal control
kandung kemih yang seharusnya tercapai
4.Sering
Berkemih (Frekuensi)
Meningkatnya
frekuensi berkemih tanpa disertai asupan cairan. Dan biasanyaterjadi pada wanita hamil.
5.Urgensi
Perasaan yang
sangat kuat untuk berkemih. Sering terjadi pada anak-anak karnecontrol sfingter mereka yang masih
lemah.Sedangkan menurut Wahit Iqbal Mubarak
dan Nurul Chayatin, 2008 dalam buku Kebutuhan Dasar Manusia,
factor-faktor yang sering mempengaruhi dalam berkemihyaitu sebagai berikut:
a.Pertumbuhan
dan Perkembangan
b.Asupan
Cairan dan Makanan
c.Gaya Hidup/
Kebiasaan
d.Factor
Fisiologis
e.Aktivitas
BAB
V
PENUTUP
5.1
KESIMPULAN
Allah
menciptakan manusia dengan sempurna yaitu diberikannya bentuk tubuh yang baik,
akal pikiran dan nafsu, kemudian manusia itu sendiri yang menentukan mampu atau
tidaknya menggunakan pemberian Allah dengan baik (QS. Attin: 4-5). Ruh sebagai
power untuk menghidupkan seluruh anggota badan, Akal sebagai alat untuk
menerima ilmu pengetahuan atau untuk mengetahui hakikat sesuatu secara logis
tanpa mempertimbangkan hal-hal yang irasional, anggota tubuh seperti panca
indra yang hanya dapat merealisasikan secara indrawi tanpa mempertimbangkan
pernghalangnya.
Urine
merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Dari 1200 ml
darah yang melalui glomeruli permenit akan terbentuk filtrat 120 ml per menit.
Filtrat tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubulus
ginjal yang akhirnya terbentuk 1 ml urin per menit.
Urine
memiliki komponen organic dan anorganik. Urea, asam urat dan kreatinin
merupakan beberapa komponen organic dari urine. Ion-ion seperti Na, K, Ca serta
anion Cl merupakan komponen anorganik dari urine. Warna kuning pada urine,
disebabkan oleh urokrom, yaitu family zat empedu, yang terbentuk dari pemecahan
hemoglobin. Bila dibiarkan dalam udara terbuka, urokrom dapat teroksidasi,
sehingga urine menjadi berwarna kuning tua. Pergeseran konsentrasi
komponen-komponen fisiologik urine dan munculnya komponen-komponen urine yang
patologik dapat membantu diagnose penyakit.
Secara
umum dapat dikatakan bahwa pemeriksaan urin selain untuk mengetahui kelainan
ginjal dan salurannya juga bertujuan untuk mengetahui kelainan-kelainan
diberbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal,
uterus dan lain-lain.
Dalam
uji coba ada beberapa cara misalnya uji benedict untuk menguji adanya glukosa
urin dan uji heller untuk mengetahui adanya protein ataupun uji chlorida untuk
mengetahui radikal bebas.
5.2
SARAN
Berdasarkan
penemuan yang diperoleh dari penelitian ini, dapat dianjurkan beberapa saran
sebagai berikut:
-
Meningkatkan pengetahuan tentang dunia sains.
-
Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai kandungan urin.
-
Dari peneletian ini diharapkan adanya penelitian yang lebih lanjut untuk
mengkaji penyakit yang dapat dideteksi pada urin.
-
Perlu adanya pelatihan yang lebih lanjut dalam pembuatan laporan penelitian.
-
Pemeriksaan hormon kepada kedua orang tersebut
DAFTAR PUSTAKA
Wahit Iqbal Mubarak dan Nurul
Chayatin, 2008.Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta:EGC
http://denfirman.blogspot.com/2009/12/gangguan-sistem-perkemihan.html.Dikunjungi
pada tangggal 21 November 2012

so nif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar